Umur 25+ Kok Belum Nikah? Trus Kenapa?

10:30


Hula!

Ketemu lagi sama unggahan #QnA gengs~ Nah kali ini tema yang bakal saya angkat lebih menggelitik dan ciamik. Soalnya berhubungan sama umur dan stereotip tentang menikah dari sudut pandang cewek. 

Mungkin kamu pernah mendengar selentingan yang berbunyi, umur 25 itu pas untuk menikahDi salah satu platform, saya juga pernah menulis tentang "Kenapa Umur 25 Dijadikan Patokan Cewek untuk Menikah". Lalu efeknya, cewek yang udah di atas umur tersebut dan belum menikah, seringkali diburu-burui. Entah lewat candaan atau ngomong straight to the point yang rasanya pengen auto-nyleding begitu dengar.

Namun masa iya seseorang dengan umur 25+ dan belum menikah selalu menjadi objek dari selentingan itu? Trus gimana dong kalau mendekati umur tersebut tapi kepikiran soal nikah aja nggak ada?

And here we are! Tulisan ini saya persembahkan untuk kamu yang sering dijadikan bulan-bulanan hanya karena udah umur 25+ dan belum menikah. Bukannya memintamu untuk menunda, toh menikah itu baik kalau memang udah saatnya dan siap lahir batin tentunya. Buat yang mau nodong atau nyinyir di balik dalil atau hal-hal berbau agamis, mohon maaf dibaca dulu ya tulisannya. Toh perintah-Nya jelas kan, Iqra! Baca dulu sebelum komentarin hihihihi.

Nah kali ini saya ngobrol banyak nih sama salah satu teman, rekan kerja, sama partner mengomentari hidup. Namanya Elyzabeth Winda, tapi saya lebih sering manggil dia Mbabets. Kenapa aku pilih Mbabets ini buat jadi narasumber di #QnA kali ini akan terjawab setelah kamu membaca tulisan ini sampai akhir.

Do not hesitate buat angguk-angguk kepala pas baca ya? Soalnya saya gitu juga pas ngeditnya!

Hai Mbabets apa kabar nih?
Hai, Arin. Kabar baik. Semoga kamu juga diliputi banyak kabar baik ya.


Kalau boleh tahu lagi sibuk apa nih sekarang?
Sibuk mengatur hidup biar seimbang dan berfaedah aja nich.


Ada rencana terdekat nggak mau ngapain? Nikah atau ngapain gitu hihi~
Rencana terdekat mau nyelesain baca buku yang dari kemarin dipinjam, huhuhu. Oh sama, um, sama ngeposting konten di akun lembaga, wkwkwk. Serta kalau tidak mager, hendak mencuci baju. Sungguh standar rencana terdekatku.


Oh iya ngomongin soal meniqa, gimana sih pendapat Mbabets soal selentingan yang menyebutkan kalau umur 25 tuh saat yang tepat buat nikah? Bahkan kalau udah lebih dari 25+ seringnya diburu-burui~
Siapa sih yang menyebarkan selentingan seperti itu? Dasar selentingan tyda penting, hihi. Eh tapi meskipun menurutku itu tidak penting, aku nggak bisa memungkiri bahwa di luar sana banyak orang yang bercita-cita menikah di usia tertentu. Bagi sebagian orang, usia 25 adalah waktu yang tepat untuk menikah. Sedangkan, bagi sebagian yang lain mungkin itu adalah waktu yang tepat untuk mengevaluasi keputusan-keputusan hidupnya selama ini (yang tidak melulu soal menikah), seperti memikirkan karir ke depan, merenungkan bagaimana caranya nyicil KPR, menentukan akan melanjutkan pendidikan di mana, dan lain sebagainya.

Poin yang ingin kusampaikan adalah, menikah di usia 25 itu tidak untuk semua orang meskipun banyak orang menginginkannya. Soal diburu-burui biar menikah setelah usia 25, ya mungkin karena alasan biologis ya, terutama perempuan, yang kalau nggak salah setelah usia 35 kesuburannya akan menurun. Kalau kamu memang sungguh berniat membangun keluarga dan memiliki keturunan, ya soal usia memang  perlu diperhatikan. Tapi, perlu dipahami bahwa kita nggak bisa pukul rata semua orang harus menikah di usia tertentu karena yah well, tiap orang punya prioritasnya sendiri-sendiri.

Nah kalau Mbabets sendiri punya pengalaman soal umur dan diburu-burui nikah nggak? Boleh dong berbagi sama kita?
Ada sih, tapi standar, hehe. Pengalamannya sama Mama. Mamaku adalah orang yang termasuk sering bertanya soal nikah ke aku. Ya wajar sih ya, namanya juga ibu. Dia pernah menyinggung soal kapan bisa punya cucu, nggak dalam situasi serius sih, ngobrol sambil lalu aja. Dengan santai aku jawab, ‘iya, nanti kita beli di Indom**et’. Pernah juga dia bicara soal keinginannya punya cucu pas ngobrol sama orang lain tapi aku lagi ada di samping Mamaku gitu. Aku cuma ‘hehehehe’ dua belas ketuk aja. Mamaku belum pernah bahas ini secara serius sih ke aku, mungkin karena sudah tahu watak anaknya kek apaan, nggak suka diatur apalagi kalau peraturannya nggak menguntungkan, hahaha.

Tapi percayalah, aku pengen kok bisa bikin Mamaku bahagia, hanya saja aku berharap dia paham bahwa definisi bahagia setiap orang itu berbeda dan itu tidak bisa dipaksa.
Selebihnya, paling dari random people yang tidak cukup penting untuk aku urai satu-satu di sini. Karena sebagian besar dari mereka hanya basa-basi, buat apa aku tanggapi serius ya kan~

Trus kalau boleh tahu gimana sih respons lingkungan Mbabets (kayak keluarga, sahabat, sampai teman kerja) soal hal ini? Mereka mendukung, B aja, atau malah juga memburu-burui?
Respon dari keluarga, um ya paling seperti yang sudah aku sebutkan di atas. Tidak terlalu memburu-burui tapi ya kalau aku berubah pikiran mungkin mereka akan bersorak-sorai gembira. Kalau dari teman, sebagian mendukung selama aku bahagia, sedangkan sebagian lainnya menduga bahwa aku lesbi atau memang belum ketemu orang yang tepat saja. Suka takjub sama  kelompok manusia reguler yang mengira aku lesbi hanya karena belum menikah. Konklusi yang lucu lho itu, hihi.

Menurut Mbabets, ada nggak sih plus minusnya dari menjadi generasi 25+ yang masih selow soal meniqa? Kalau boleh, berbagi dong mbaaak hihi :3
Hmm, apa ya. Tentu berbeda ya buat tiap orang, nggak bisa disamaratakan. Mungkin, kamu jadi punya keleluasaan melakukan apapun tanpa perlu memikirkan dampak keputusan-keputusanmu terhadap anak dan suami/istrimu. Kekurangannya, ya paling teman mainmu bakal berkurang karena sebagian besar sudah berkeluarga dan dikomentarin sama masyarakat sekitar, hehehe. Tapi kayaknya terlalu menyederhanakan masalah ya kalau kita bahas soal plus atau minus belum nikah di usia 25+. Karena menikah atau tidak, kekurangan dan kelebihan tersebut nggak terbatas hanya untuk kelompok tertentu aja kok. Masih sendiri atau sudah berpasangan, nggak lantas membuat posisi salah satunya lebih unggul atau lebih buruk dari yang lainnya.

Ketimbang mikirin plus minus, lebih baik kita mikirin gimana caranya memperbaiki diri sendiri dan berusaha sebaik-baiknya menjadi manusia berguna buat lingkungan sekitar. Eh. Nyambung nggak sih jawabanku ini? :p

Nah ini nih yang sering digalaw-in sama banyak anak-anak muda. Menurut Mbabets, kalau disuruh milih, mending seriusin berkarir dulu atau cari pasangan? Trus alasannya kenapa?
Serius bukannya udah bubar? Ya ampun maaf, jokes receh. Kalau bisa jalan dua-duanya, kenapa nggak? Tapi, kalau mau pilih salah satu, pilih yang paling bikin bahagia dan bisa bikin kita bersemangat menjalani hari-hari. Biar bisa tahu milih yang mana, ya kamu harus tahu dirimu sendiri dulu sih. Maumu apa, biar mantap ambil keputusan, soalnya hidupmu kamu yang jalanin kan. Kalau aku sih milih karir ya, karena karir tidak akan terbangun suatu hari dan memutuskan untuk pergi meninggalkanmu ~ uwuwuwu ~ Unfaedah ya jawabanku ~

Ada nggak tips dari Mbabets buat menghadapi omongan orang tentang umur 25+ kok belum meniqa?
Post saja foto beserta omongan mereka di medsos, dan biarkan netizen melakukan magic-nya, muahahaha. Nggak ding, ya tapi kalau mau dicontoh tidak apa-apa sih. Seperti kita ketahui bersama, omongan orang itu nggak akan ada habisnya. Mending waktumu mikirin omongan orang yang-sebagian-besar-dapat-dipastikan-nggak-peduli-padamu dipake buat riset bisnis menggiurkan di masa depan atau belajar buat ujian CPNS bagi yang ingin jadi PNS.

Pertanyaan terakhir, Mbabets ada pesan nggak untuk mereka yang mau menjelang 25+ tapi belum juga punya rencana buat meniqa (ini termasuk aku juga sih hahaha)?
Jadilah lebih besar dari beban yang kamu emban dan belajarlah untuk tidak membesar-besarkan beban. Kalau capek, istirahat. Kalau laper, makan. Kalau haus, minum. Segala sesuatu ada masanya, setiap hal punya waktunya sendiri-sendiri. Semoga kamu terus baik-baik saja di dunia yang seringkali tidak baik ini. Amin, saudara-saudara.

Here she is!
Dari hasil ngobrol yang nggak cantik-cantik amat ini, saya bisa ambil satu kesimpulan: apapun keadaanmu sekarang, omongan orang akan selalu datang. Toh mereka ngomentari hidupmu karena mereka hanya bisa melihatnya dari luar. Begitu pula soal umur 25+ dan belum menikah ini. Menikah atau belum, saya rasa semua orang berhak untuk menentukan jalan hidupnya. 

Karena…

Definisi bahagia setiap orang itu berbeda dan tidak bisa dipaksa – E.W.


Sekian ya tulisan untuk rubrik #QnA kali ini. Semoga dari apa yang saya tuliskan di sini, bisa kamu ambil manfaatnya. Paling tidak insight baru lah ya~ Untuk yang mau berdiskusi, monggo lho untuk menuliskan buah pikirannya di kolom komentar. Sampai ketemu di tulisan #QnA selanjutnya~

Love,






Narasumber:

Elyzabeth Winda

Instagram: @bethwinda

Featured Image by Soroush Karimi on Unsplash

You Might Also Like

0 komentar

Halo! Jangan lupa tinggalkan komentar, siapa tahu kita bisa diskusi bersama. Mohon tidak meninggalkan link hidup ya. Thankyou :)

Subscribe