London - Jatuh Cinta, Terluka, lalu Bangkit Setelahnya

19.27


"Konon, kehilangan terbesar adalah saat kita kehilangan seorang teman."


Ya, dia teman. Dia sahabat. Dia kakak. Dan dia…pencuri hati yang membawanya pergi ribuan kilometer jauhnya.

Dia…cinta.

Mungkin, dia merupakan salah satu kehilangan terbesarku. Bukan karena tidak lagi cinta, melainkan aku kehilangannya saat kami saling cinta.

Kami memulai rasa dan memupuknya saat ia berada di London. Kota yang dengan kurang ajarnya membuatku semakin jatuh cinta padanya. Perbedaan jarak dan waktu sedikit demi sedikit dikalahkan oleh yang namanya cinta. Perbedaan waktu enam jam juga semakin tidak ada apa-apanya saat cinta mulai mengudara.

London

Kota yang membuatku jatuh cinta. Tapi sialnya, ia juga membuatku terluka.

Cinta telah membuat kami buta bahwa sebenarnya kami berbeda.

Bukan…bukan…

Kami bukan berbeda dalam hal cinta, tapi kami berbeda dalam hal agama.

Tujuh bulan aku dibuat jatuh cinta. Satu hari aku dibuat terluka. Namun aku butuh satu tahun untuk kembali percaya akan cinta.

Aku masih ingat benar saat cinta mengudara di seperempat malam. Saat yang yang lain sudah terlelap, aku malah gegap dengan cinta di ujung sambungan sana.

Aku masih ingat benar saat air mata ada. Saat London tengah hujan rintik ditambah dengan suara bus yang tengah menurunkan penumpangnya, kami mengakhiri semua. Semua yang dilabeli atas nama cinta, harus kami kalahkan atas nama agama.

Aku masih ingat benar saat satu tahun lamanya aku berusaha, untuk menghapus London dan seisinya dari hati dan kepala.

Dan yang paling aku ingat adalah saat kamu pulang, kamu bukan lagi siapa-siapa tapi sikapmu masih sama.

Kemudian aku mengingatkan diriku sendiri bahwa aku harus berdamai dengan masa lalu untuk mengatasi semua.

Mengatasi rasa benciku pada London dan seisinya yang mengingatkanku bahwa aku pernah terluka.

London,

Terima kasih atas semua.

Berkatmu, aku bisa jatuh cinta, terluka, lalu bangkit setelahnya. 



Tulisan ini dibuat untuk memenuhi #tantangannulis #BlueValley bersama Jia Effendie.


You Might Also Like

0 komentar

Subscribe